Rabu, 04 Februari 2015

Mengenal Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Seni Rupa

Sejarah

ASRI, Akademi Seni Rupa Indonesia

[D]alam perjalanan sejarah panjangnya, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta adalah sebuah institusi pendidikan tinggi bidang seni rupa di Indonesia yang hampir sama tuanya dengan usia Republik Indonesia. Sebelum menjelma menjadi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta sebagaimana yang dikenal sekarang, lembaga ini pada awalnya bernama ASRI atau Akademi Seni Rupa Indonesia. ASRI berdiri atas dasar surat Keputusan Menteri PP dan K no. 32/Kebud., tanggal 15 Desember 1949. Peresmiannya dilakukan pada tanggal 15 Januari 1950 oleh Menteri PP dan K saat itu, yaitu S. Mangunsarkoro di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, dengan mengangkat direktur pertamanya RJ. Katamsi. Bidang pendidikan seni yang diselenggarakan ASRI pada saat itu yaitu Seni Lukis, Seni Patung, Seni Pertukangan, dan ”Redig” singkatan dari Reklame, Dekorasi, Ilustrasi Grafik, disusul dengan Jurusan Guru Menggambar. Di awal berdirinya ASRI serba dalam kondisi darurat, belum memiliki satu kampus yang terpadu. Pendidikan dilaksanakan di banyak tempat. Gedung Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) Yogyakarta sebagai kantor pusat, tempat kuliah, dan studio Bagian I/II. SMA/B Kota Baru dan rumah RJ. Katamsi di Gondolayu untuk studio Bagian IV dan V. Bekas gedung Kunst Ambachschool di Ngabean dan Bintaran untuk studio Bagian III. Baru pada tahun 1957, ASRI mendapat gedung pre-fabricated bantuan dari Amerika Serikat yang bentuknya sama dengan banyak gedung SMA di Indonesia, yaitu yang dikenal dengan kampus Gampingan yang legendaris itu. Dengan kondisi sarana dan prasarana yang sangat terbatas, juga pengalaman penyelenggaraan akademi yang belum ada, dan sumber daya manusia yang sangat kurang, kenyataannya ASRI bisa berjalan. Tetapi lebih dari itu, sebenarnya dosen-dosen yang meng ajar mempunyai kualitas yang tinggi. RJ. Katamsi sendiri yang lulusan Academie voor Beeldende Kunsten, Den Haag, mengajar sejarah kesenian, ilmu reproduksi, perspektif, dan opmeten. Djajengasmoro mengajar melukis dan stilleven. Kusnadi yang juga pelukis, meng ajar komposisi. Mardio mengajar metodik dan menggambar di papan tulis. Ardan mengajar pengetahuan bahan dan Warindyo pada menggambar ukir-ukiran. Dokter Radiopoetro mengajar anatomi plastis, Widjokongko pada fotografi, tipografi, dan ilmu ukur melukis, sedangkan Padmopoespito mengajar sejarah kebudayaan. Dari siswa angkatan pertama yang berjumlah 160 orang, muncul potensi-potensi kuat dalam masing-masing bidang seni rupa, sehingga setelah lima atau enam tahun kemudian direkrut menjadi pengajar. Mereka adalah Widayat, Hendrodjasmoro, Saptoto, HM. Bakir, Abas Alibasyah, Abdul Kadir, Edhi Sunarso, dan Soetopo. Dalam dunia seni rupa Indonesia mereka juga akhirnya dikenal sebagai seniman-seniman yang handal.

Kunjungan Presiden Sukarno ke kampus ASRI
Keadaan darurat pada pendirian akademi seni rupa ini memang berakibat pada belum siapnya diterapkan sistem pendidikan yang ketat dengan menerapkan norma-norma akademik dan metode yang berbasis ilmu pengetahuan (wetenschapelijk). Persoalan tersebut juga berakibat pada kurang matangnya pembuatan kurikulum, pemberian nama mata kuliah, maupun peraturanper aturan akademik yang belum tertata dengan baik. Dengan kearifan dan kesadaran kontekstual pada kondisi yang ada, maka sebagai gantinya ASRI menerapkan peng ajaran dalam “sistem proyek global”, yaitu suatu sistem yang memberikan keberanian dan kebebasan penuh kepada para siswa. Dengan sistem itu, dalam proses studi baru enam bulan ASRI sudah berani tampil dalam pameran Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-5 di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Pada kesempatan itulah RJ. Katamsi mengungkapkan bahwa dorongan semangat ini merupakan buah dari “sistem proyek global”, yang dalam pengajaran praktik tidak mementingkan detail dari objek (alam atau benda) yang sedang dihadapi, melainkan hanya mengutamakan kesan keseluruhan yang telah dibumbui dengan konsep pribadi. Dengan “sistem proyek global” ini ASRI harus banyak membawa siswanya untuk praktik on the spot ke alam, dan hal itu telah dilakukan dengan melukis keluar seperti ke Parang tritis, Kaliurang, Borobudur, dan lain-lainnya. Namun demikian, ada juga tradisi lain yang terus berkembang dari sistem pendidikan ASRI, yaitu siswa tidak diarahkan pada suatu gaya dan corak tertentu dalam berkarya. Di samping itu, dalam mengajarkan realisme dan naturalisme siswa diberi dasar yang lengkap, logis, dan nyata. Dalam perkembangan selanjutnya, tanpa disa dari terjadi suatu pergeseran visi pendidikan ASRI yang seharusnya mendidik calon-calon seniman menjadi mendidik calon-calon guru. Hal tersebut karena dipengaruhi kenyataan dalam masyarakat dan kehidupan, bahwa berprofesi sebagai seniman ternyata masih sulit untuk mendapat jaminan hidup. Oleh karenanya berkembanglah tuntutan agar pendidikan ASRI juga bisa mendapat kesetaraan dengan ijazah SGA dan B-1, sehingga dapat untuk mengajar. Penyimpangan visi pendidikan ini kemudian diperbaiki dengan SK Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan No. 27/1963, 5 April 1963.


Dalam SK tersebut ASRI kemudian diberi status akademi penuh, dan memisahkan Bagian Satu (yang dimasuki lulusan SMP untuk bidang seni lukis, patung, dan kriya) menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa, serta Bagian Lima (bidang guru gambar) menjadi Jurusan Seni Rupa di IKIP.

Kampus ASRI di Gampingan No. 1

ASRI menjadi STSRI “ASRI”

Perubahan status berikutnya terjadi pada tanggal 4 November 1968, yaitu menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI), lewat SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0100/1968. Dengan nama baru STSRI itu, sebutan ASRI tidak dihilangkan karena dimanfaatkan sebagai brand name yang telah familiair dengan masyarakat. Lagi pula dalam bahasa Jawa, asri mempu nyai makna indah dan menyenangkan, sehingga sebutan itu mempunyai pencitraan yang baik untuk perguruan tinggi seni rupa. Dalam status tersebut, STSRI “ASRI” sebagai pendidikan tinggi seni rupa yang telah membuka tingkat doktoral atau sarjana penuh kemudian membenahi berbagai perangkat lunak akademik dalam sistem pendidikannya. Pada tahun 1969, dipelopori oleh Soedarso Sp, MA yang pada waktu itu menjabat sebagai Pjs. Ketua, mengganti sistem kenaikan tingkat atau studi tahunan dengan sistem semester dan studi terpimpin dalam Satuan Kredit Semester (SKS). Untuk perguruan tinggi di Yogyakarta, STSRI “ASRI” ternyata menjadi pelopor dalam pemakaian sistem ini. Tentu saja sistem ini dimaksudkan mendorong tradisi dan etos belajar mahasiswa untuk menjadi lebih disiplin, karena untuk mencapai derajat sarjana diperlukan target capaian yang berbobot ilmiah pula. Demikian juga, bagian-bagian bidang studi pada sistem akademi sebelumnya dikembangkan semakin mantap menjadi enam Jurusan, yaitu Seni Lukis, Seni Patung, Seni Ilustrasi/Grafis, Seni Kriya, Seni Reklame/Propaganda, dan Seni Dekorasi.

Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meresmikan ISI Yogyakarta, 23 Juli 1984

Dari STSRI “ASRI” ke Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Proses perjalanan lembaga pendidikan tinggi seni rupa ini yang paling akhir adalah bergabungnya STSRI “ASRI” dengan AMI dan ASTI membentuk Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang secara resmi dibentuk melalui SK Presiden RI, No. 39/1984, tanggal 30 Mei 1984 dan peresmian berdirinya oleh Mendikbud pada tanggal 23 Juli 1984. Dalam bagian ini, menjadi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, sebenarnya tetap merupakan perjalanan panjang dari proses penyempurnaan sistem pendidikan tinggi seni rupa, yang secara dialogis mempertahankan antara nilai tradisi dan modernitas. Menyer-tai perkembangan Indonesia dan zaman yang semakin modern, FSR ISI Yogyakarta mengembangkan sistem pendidikannya sesuai dengan konsep-konsep pendidik an modern dalam kerangka visi ISI Yogyakarta dan norma-norma dari Departemen Pendidikan Nasional. Pada proses perubahan menjadi Fakultas Seni Rupa ini kampusnya masih menempati tempat lama di Gampingan, namun setelah tahun 1995 kampus FSR pindah ke jalan Parangtritis, Sewon, Bantul bergabung dengan kampus terpadu ISI Yogyakarta.

Visi

Sebagai penyelenggaran Tri dharma PT bidang seni rupa yang unggul, berwawasankebangsaan, demi memperkaya nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan perkembangan zaman.

Misi

  1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi seni rupa yang berkualitas untuk mengedepankan pelestarian, pengelolaan, dan pengembangan potensi seni, serta budaya lokal nusantara agar memiliki daya saing dalam percaturan global.
  2. Menyiapkan lulusan yang bermoral, mandiri, kreatif, tangguh, unggul, dan memiliki jiwa kewirausahaan.
  3. Meningkatkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang mendukung pendidikan dan kemajuan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
  4. Mengembangkan kerjasama antarlembaga secara berkelanjutan.
  5. Memantapkan tata kelola di lingkungan fakultas yang efektif, produktif dan berbasis IT.
Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta memiliki tiga jurusan, yaitu Jurusan Seni Murni, Jurusan Seni Kriya, dan Jurusan Desain. Ketiga jurusan itu merupakan unsur-unsur yang mempunyai hubungan hirarkhis (taksonomis) yang bersumber pada bidang ilmu seni rupa, tetapi masing-masing mempunyai kekhasan pada konsep, fungsi, terap-an, motivasi penciptaan, bentuk, maupun material dan tekniknya. Dengan kata lain, jurusan-jurusan itu merupakan ranting atau unsur taksonomi dari cabang seni rupa, dan tumbuh dari pohon ilmu seni.

MENGENAL KEBUDAYAAN

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.[1] Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[1]




Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Pengertian kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Unsur-Unsur

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi
    • sistem ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)
  3. C. Kluckhohn mengemukakan ada 7 unsur kebudayaan secara universal (universal categories of culture) yaitu:
    • bahasa
    • sistem pengetahuan
    • sistem tekhnologi dan peralatan
    • sistem kesenian
    • sistem mata pencarian hidup
    • sistem religi
    • sistem kekerabatan dan organisasi kemasyarakatan

Wujud dan komponen

Wujud

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
  • Gagasan (Wujud ideal)
    Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
  • Aktivitas (tindakan)
    Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
  • Artefak (karya)
    Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Jaipongan Simbol Karakteristik Perempuan Sunda Kekinian

Oleh: Een Herdiani
Disampaikan dalam Seminar Nasional Semiotik, Pragmatik, dan Kebudayaan
30 Mei 2013 di FIPB Universitas Indonesia

Jaipongan merupakan salah satu genre tari Sunda yang muncul awal tahun 1980-an. Tarian ini hasil kreativitas Gugum Gumbira yang mengangkat keragaman tari hiburan Rakyat Tatar Sunda. Tarian yang awalnya berfungsi hiburan yang berkembang di kalangan rakyat mampu dikemas dalam bentuk tari pertunjukan yang sangat memikat. Khususnya di Jawa Barat, kehadiran Jaipongan menjadi sesuatu yang menyentuh rasa kecintaan masyarakat terhadap tari Sunda. Maka, dalam waktu yang relatif singkat perkembangan Jaipongan sangat signifikan yang kemudian digandrungi masyarakat berbagai kalangan di Jawa Barat, bahkan di Indonesia.

Kini, jaipongan telah mengakar menjadi ikon tari Sunda. Gerakannya yang atraktif musiknya yang dinamik memberi daya rangsang luar biasa terhadap para penikmat untuk larut di dalamnya. Gerakan tangan yang menempati ruang gerak tak terbatas; sikap kaki yang terbuka lebar dengan jangkauan gerak bawah, tengah, dan atas dengan lincah; gerakan tubuh yang meliuk; hentakan-hentakan tegas dari seluruh bagian tubuh yang terkadang muncul dengan gerak mengalun, berpadu dalam sebuah dinamika yang estetis.

Dari pembacaan tanda yang diungkapkan lewat seluruh gerak tubuh dapat disimpulkan bahwa Jaipongan merupakan simbol karakteristik dari sosok perempuan Sunda masa kini. Yakni pemberani, mandiri, bertanggung jawab, lincah,pekerja keras, romantis, dan ceria, yang dapat diliha salah satu dari gerakan yang diungkapkan dalam Jaipongan. Penanda gambaran karakteristik perempuan Sunda tidak hanya terlihat dari gerakan, namun terlihat pula dari musik pengiring tarian, lirik nyanyian, serta kostumnya. Secara unity karakteristik perempuan Sunda kekinian sangat tampak dalam Jaipongan.

Kata Kunci: Jaipongan, simbol, perempuan Sunda.

PENDAHULUAN

Jaipongan merupakan salah satu genre tari Sunda yang embrio kelahirannya muncul sejak tahun 1974. Mulai dikenal masyarakat luas pada tahun 1980. Sejak itu Jaipongan berkembang pesat. Dalam waktu yang relatif singkat tarian ini telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Jawa Barat. digemari masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Tarian ini membumi sejak tahun 1980-an. Tarian ini sudah populer sebagai ikon tari Sunda. Popularitasnya terus menanjak sehingga semua kalangan masyarakat dari masyarakat kelas bawah hingga Apa lagi setelah tiga tahun lalu kelompok tari Jaipongan Rumingkang masuk ketiga besar ajang pencarian bakat yang digelar di Trans 7. Apalagi sekarang Sandrina yang menjadi pemenang dalam acara Indonesia Mencari Bakat, yang mahir tari Jaipong. Oleh sebab itu mempelajari Jaipongan kini menjadi trend kembali dalam masyarakat Sunda khususnya di kalangan masyarakat usia dini.

Jaipongan lahir dari sebuah keinginan Gugum Gumbira untuk mengangkat seni rakyat yang saat itu berfungsi sebagai seni hiburan menjadi seni pertunjukan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Hasilnya, sangat mengejutkan, seni rakyat yang telah dikemas dalam bentuk baru yang diberi nama Jaipongan menjadi tarian yang sangat populer. Gugum Gumbira telah membuat terobosan baru dengan mengangkat genre tari rakyat menjadi sebuah seni pertunjukan lintas strata sosial. Tarian yang lahir dari masyarakat kalangan menengah ini digemari oleh kalangan bawah hingga kalangan atas. Tarian yang awalnya sebagai konsumsi masyarakat kecil menjadi konsumsi masyarakat atas hingga hadir di istana negara.Kehadiran Jaipongan menyentuh rasa kecintaan masyarakat terhadap seni tari. Saat itu, demam Jaipongan pun terjadi di hampir seluruh pelosok tatar Sunda. Laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa tidak ada pengecualian berbondong-bondong belajar Jaipongan. Terutama lebih dominan perempuan.

Tahun 1980-an, banyak perempuan Sunda yang merasa malu bila tidak dapat menari Jaipongan. Hal ini sangat menarik, mengapa hingga terjadi fenomena semacam itu. Ada apa dibalik semua peristiwa tersebut. Perempuan Sunda yang awalnya dikenal sebagai perempuan anggun, lungguh, pemalu, tiba-tiba menjadi berani tampil di depan publik.Banyak orang menganggap bahwa perempuan Sunda memiliki stereotif sebagai wanita-wanita yang cantik, anggun, pandai berdandan, ramah, tetapi pemalas.

Walaupun pendapat tersebut hanya berupa ungkapan lisan yang sering dilontarkan banyak orang, namun hal itu perlu diamati kesesuaiannya. Harus ada pengkajian tentang permasalahan itu untuk menemukan jawaban. Hal ini sah-sah saja tergantung orang melihatnya dari sudut pandang yang mana. Prototipe perempuan Sunda seperti disebutkan di atas, bila diamati dari sudut pandang estetika tari, terdapat hal yang menarik. Tari sebagai bahasa tubuh yang diungkapkan oleh koreografer dan penarinya disajikan supaya dapat dibaca dan dipahami oleh penikmatnya.

Umumnya ungkapan tarian menggambarkan kehidupan suatu masyarakat atau indivitu yang tidak akan lepas dari lingkungan yang menghidupinya . Demikian pula dalam ungkapan gerak tari Jaipongan. Penulis melihat bahwa Jaipongan adalah tarian yang dapat memberi gambaran perempuan Sunda kekinian yang energik. Gerak Jaipongan yang atraktif dan dinamis mampu menunjukkan bahwa perempuan Sunda adalah perempuan yang penuh semangat, penuh perjuangan, kuat, ramah, lincah, kenes, dan pemberani. Di samping itu, keindahan dan kecantikan selalu ingin diungkapkan dan ditonjolkan. Dibalik kelembutan tari Jaipong terdapat gerakan-gerakan gesit, sedikit “jalingkak” maskulin tetapi terungkap dalam gerakkan nan indah.

Penulis menganggap bahwa bentuk-bentuk gerak yang muncul sebagai ungkapan karakter perempuan Sunda kekinian. Perubahan penting terjadi dalam karakter perempuan Sunda yang dulu cenderung “pasrah sumerah” nerima terhadap penguasanya kini menjadi perempuan gesit yang tangguh, pemberani, dan penuh daya tarik. Itulah keunikan Gugum Gumbira sebagai koreografer tari Jaipong telah mampu mengungkapkan perubahan penting dalam karakter perempuan Sunda. Ada simbol-simbol yang terkandung di dalam gerakan tari yang diungkapkan, yaitu simbol karakteristik perempuan Sunda kekinian.

JAIPONGAN DALAM MASYARAKAT SUNDA

Istilah Jaipong sudah dikenal di daerah utara Jawa Barat khususnya Karawang sekitar tahun 1975. Jaipong sering diungkapkan oleh penari bodor (pelawak) dalam pertunjukan Banjet, ketika ia menirukan bunyi kendang. Ia adalah Askin (pemimpin Topeng Banjet dari Karawang) yang sering meminta Suwanda (tukang kendang) untuk mengisi atau mengiringi gerakkannya dengan pukulan kendang.1) Istilah Jaipong saat itu tidak sepopuler ketika sudah dipergunakan oleh Gugum Gumbira untuk menamakan karya tarinya.

Tahun 1978, Gugum mengkreasikan sebuah karya tari yang bersumber dari ketuk tilu, pencak silat, dan pertunjukkan rakyat lain yang langsung banyak menyita perhatian publik. Tarian tersebut lahir dari sebuah keinginan Gugum Gumbira untuk mengangkat seni rakyat yang saat itu berfungsi sebagai seni hiburan. Berbagai sumber tarian rakyat di tatar Sunda dikemas menjadi bentuk pertunjukan dengan tujuan untuk dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Gugum berkeinginan untuk mengangkat ciri mandiri tari Sunda yang dipandangnya memiliki nilai jual. Setelah melalui proses penciptan tari yang tergolong unik, Gugum melahirkan karyanya yang diberi judul Ketuk Tilu Perkembangan atau disebut juga Ketuk Tilu Gaya Baru. Tarian ini pertama kali dipertunjukkan di lingkungan kampus Akademi Seni Tari Indonesia Bandung sebelum diikut sertakan dalam festival kesenian rakyat di Hongkong.

Pada awalnya, Gugum Gumbira sendiri yang menjadi penarinya ia berpasangan dengan Tati Saleh. Sajian tersebut mengundang polemik yang cukup besar terutama bagi kalangan seniman tradisi. Kendatipun mendapat kecaman dari berbagai pihak Gugum tidak bergeming untuk tetap melahirkan karyanya yang lain. Masih dalam tahun yang sama, yaitu akhir tahun 1978, ia melahirkan tari Daun Pulus Keser Bojong dan Rendeng Bojong. Dengan ditampilkannya tarian tersebut berbagai forum diskusi dilakukan oleh organisasi pemerintah maupun swasta untuk merespon secara positif maupun negatif terhadap karya Gugum. Berbagai usulan dilemparkan para seniman dan budayawan untuk memberi nama pada genre yang dibuatnya. Maka muncullah istilah Jaipongan untuk menyebut karya-karya tari baru dari Gugum Gumbira. Hasilnya, sangat mengejutkan, seni rakyat yang telah dikemas dalam bentuk baru yang diberi nama Jaipongan menjadi tarian yang sangat populer. Gugum Gumbira telah membuat terobosan baru dengan mengangkat genre tari rakyat menjadi sebuah seni pertunjukan yang digemari hingga lintas strata sosial.

Strata sosial Gugum Gumbira saat itu adalah berada di kalangan kelas menengah. Terapi karyanya dapat menembus rakyat biasa hingga masyarakat istimewa. Pada umumnya tari Jaipongan lebih cenderung dikuasai perempuan ketimbang laki-laki. Gugum secara sengaja membuat kreasinya kebanyakan berjenis tari perempuan. Hal itu dilakukan dengan alasan bahwa perempuan memiliki daya tarik yang menakjubkan. Dilihat dari cara berjalannya saja perempuan dapat menimbulkan daya tarik Apalagi bila diberi gerakan yang distilasi dengan mengutamakan keindahan gerak. Tidak disangkal pula bahwa fenomena yang menjadi salah satu faktor yang menjadi inspirasi terciptanya Jaipongan adalah melihat seorang sinden yang sedang menari dalam sajian Bajidoran.2) Dari keuletan dan semangatnya yang menggebu dalam berkarya saat itu, maka tahun 1980-an Gugum Gumbira mampu melahirkan tarian lain di antaranya Oray Welang, Toka-toka, Pencug, Sonteng, Setrasari, Rawayan, dan Kawung Anten. Pada umumnya tarian yang dibuat disertai dengan iringan karawitannya yang dibuat baru pula.

Kemunculan Jaipongan yang atraktif dan dinamis, dalam waktu yang relatifsingkat digemari masyarakat luas. Laki-laki maupun perempuan beramai-ramai mempelajari Jaipongan. Demam Jaipongan pun melanda hampir seluruh lapisan masyarakat Jawa Barat. Pro dan kontra muncul di masyarakat karena Jaipongan telah dianggap mengeksploasi tubuh perempuan. Terutama yang dimunculkan lewat gerakan pinggul. Tidak dipungkiri bahwa pinggul merupakan salah satu wilayah perempuan yang memiliki daya sensual tinggi sehingga sebagian orang menganggap bahwa pinggul adalah wilayah privasi perempuan. Menurut pendapat masyarakat kebanyakan bahwa keprivasian itu perlu dijaga karena dapat mengundang gairah kaum laki-laki. Dengan adanya pro dan kontra mengenai masalah tersebut malah semakin mengangkat nama Jaipongan dan Jaipongan pun menjadi fenomenal.

1. PEREMPUAN SUNDA
Perempuan dalam masyarakat Sunda lama memiliki kedudukan tinggi dan dihormati. Seperti yang digambarkan dalam berbagai naskah historiografi tradisional. Demikian halnya diungkapkan Yakob Sumardjo bahwa “Perempuan dalam pandangan masyarakat Sunda lama, memiliki tempat terhormat. Meskipun tidak sampai pada kedudukan tempat terpenting dalam ruang publik, namun kedudukan perempuan amat terhormat dalam dalam ruang domestik, dan lebih-lebih dalam ruang batin manusia Sunda”.3) Hal ini dapat dilihat dalam cerita Pantun Sunda yang menjunjung tinggi tokoh Sunan Ambu sebagai tokoh yang dapat dijadikan andalan dalam memecahkan berbagai masalah, sehingga kedudukannya sangat dihargai. Penghormatan terhadap perempuan juga tergambar dalam Pantun Sunda Panggung Karaton. Disebutkan bahwa dunia atas yang kosong itu adalah kekemben layung kasunten, yang berarti bahwa perempuan sebagai azas dunia atas. Sementara dunia bawah bumi-tanah ini adalah kalakay pare jumarum. Langit itu perempuan dan tanah itu laki-laki, bila disatukan dan diharmonikan akan melahirkan kehidupan baru. Dalam pandangan kosmologi masyarakat Sunda lama, bahwa perempuan sebagai pemberi hidup, berkualitas transenden. Bahkan rumah dianggap sebagai perempuan. Perempuan adalah lokalitas, adalah rumah, adalah asal kehidupan.4) Pendapat tersebut menempatkan kedudukan perempuan Sunda lama sangat dihormati dan dihargai dalam ruang domestik. Artinya, penghargaan tersebut hanya sebatas ruang domestik, sementara kedudukannya dalam ruang publik sangat terbatas. Pembatasan ruang gerak bagi perempuan hingga saat ini masih terjadi dalam berbagai aspek kehidupan.

Dari gambaran kedudukan perempuan dalam masyarakat Sunda lama, dapat dibaca bahwa perempuan Sunda memiliki karakter yang berwibawa, dapat dipercaya, kalem, lembut. Asumsi penulis terhadap kewibawaan perempuan dalam kemampuannya memecahkan masalah. Dengan demikian diyakini sosok Sunan Ambu adalah sosok perempuan yang pandai. Sunan Ambu merupakan kependekan dari susuhunan atau yang disembah. Yang berarti Ibu Kedewataan yang disembah, agung, dan berkuasa. 'Ibu' di sini bersifat keilahian. Sosok yang multiperan sebagai Dewi, Ibu yang sangat dihormati. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa Sunan Ambu memiliki karakter yang berwibawa, kharismatik, penuh cinta kasih, pendidik, penolong, serta memiliki kekuatan melindungi.5)

Perempuan yang mendominasi dalam tataran masyarakat Sunda juga digambarkan dalam cerita Mundinglaya Dikusumah. Ia adalah tokoh Dewi Asri yang mengajukan persyaratan lamaran Sunten Jaya dengan meminta seekor gajah putih, satu pasu usus nyamuk, satu pendil jantung semut, satu papanggungan yang besar dan indah, 25 kapal penuh bahan, 25 peti emas intan, 40 perangkat gamelan beserta pemainnya, 40 balandongan, 100 kandang kerbau dan sapi, serta 100 kandang ayam dan domba. Cerita lain adalah Nyi Sumur Bandung yang digambarkan bahwa ia mampu meminang Raja Munding Keling yang mampu mengalahkan 42 selir raja dengan Bantuan Sunan Ambu. Demikian pula dalam cerita Purbasari Ayuwangi yang mampu mengalahkan angkaramurka Purbararang dengan kesabaran dan kelembutan hatinya.6)

Dari gambaran tokoh-tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah-naskah cerita pantun tersebut sebagai historiografi tradisional dapat dibaca bahwa karakter perempuan Sunda lama di antaranya adalah berwibawa, kharismatik, penuh cinta kasih, pendidik, penolong, pelindung, penyabar, dan memiliki hati yang lembut. Dilihat dari karakter ini perempuan dalam masyarakat Sunda lama adalah perempuan yang sangat ideal sebagai sosok perempuan dalam kehidupan dunia.

Perempuan dalam cerita Pantun di atas sangat berbeda dengan historiografi modern. Sejarah hanya milik laki-laki yang dipenuhi dengan tema sejarah politik dan militer yang erat kaitannya dengan masalah kekuasaan dan keperkasaan.7) Hal ini dianggap tidak adil karena sebenarnya wanita dapat dipandang sebagai pribadi yang mandiri yang dapat menggerakkan sejarah.

Perempuan dalam sosio-budaya lekat kaitannya dengan simbol-simbol seperti: lemah-lembut, keibuan, cantik, dan emosional. Sementara laki-laki memiliki simbol gender: kuat, perkasa, jantan, dan rasional. Dari simbol ini dapat dilihat bahwa muncul sebuah persepsi di mana perempuan lebih lemah dari kaum laki-laki. Dalam stratifikasi sosial masyarakat Sunda zaman feodal dikenal tiga lapisan masyarakat yaitu kaum menak (kelompok aristokrat) yang menempati lapisanmasyarakat paling atas; kaum santana (kelompok tengahdi antara kaum menak dan kaum cacah); dan kaum cacah/somah (kelompok lapisan paling bawah). Demikian halnya dengan perempuan. Ada perempuan yang termasuk kaum bangsawan yang selalu memiliki hak istimewa dengan segala fasilitasnya, dan ada wanita somah yang harus pasrah menerima statusnya sebagai rakyat kecil.8) Walaupun demikian perempuan yang hidup di kalangan bangsawan maupun somah tampaknya mereka memiliki karakter yang sama yaitu pasrah terhadap keadaan. Mereka diperlakukan seenaknya oleh para penguasa, termasuk orang tuanya sendiri.

Sebagai salah satu contoh dalam kisah tentang tiga orang anak buah Dipati Ukur yang bernama Wirawangsa, Samahita, dan Astramanggala. Tiga orang tersebut mendapat kebebasan dalam tugas dan kewajibannya terhadap Sultan Mataram karena mereka dianggap berjasa telah bekerjasama dalam menangkap Dipati Ukur yang dianggap berkhianat kepada Sultan Mataram. Dengan anugrah yang diberikan kepada mereka dari Sultan Mataram, maka mereka pun membalas dengan kesepakatan mempersembahkan tiga gadis cantik. Sultan merasa senang dan mereka pun diangkat menjadi mantri agung. Sangat jelas sekali bahwa wanita dianggap sama dengan benda yang dapat dipersembahkan sebagai upeti.9) Di samping itu banyak sekali contoh-contoh lain misalnya perempuan yang sering dijadikan selir-selir, atau ada juga dalan Wawacan Sajarah galuh yang mengisahkan tentang Nyi Tandaruan Gagang seorang putri keturunan Padjadjaran yang mengalami nasib tragis. Ia mula-mula dinikahi Sulatan Cirebon, kemudian bercerai dengan alasan bahwa bagian badannya dapat mengeluarkan api. Kemudian ia pun dinikahi Sultan Banten, tidak lama kemudian cerai pula dengan alasan yang sama. Akhirnya ia pun dinikahi Sultan Mataram, yang juga mengalami nasib sama. Kemudian ketiga sultan tersebut sepakat untuk menjual Nyi Tandaruan Gagang kepada pemerintah Inggris (dalam bagian lain ke pemerintah Belanda) yang kemudian pemerintah asing tersebut menukarnya dengan tiga buah meriam. Di sini perempuan tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya pasrah terhadap keadaan. Karakter yang bisa dibaca dari cerita ini bahwa perempuan Sunda adalah penyabar, dan menerima atau pasrah.

Perempuan Sunda mulai tampak dengan adanya perlawanan terhadap keadaan yang melingkupinya adalah ketika adanya Raden Dewi Sartika putri dari Raden Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1876). Dari keberanian Raden Dewi Sartika untuk merobah keadaan karakter dan kedudukan perempuan, muncul sekolah istri yang kemudian berkembang menjadi Sakola Kautamaan Isteri. Dengan adanya sekolah ini banyak para perempuan yang memiliki kemampuan keterampilan. Ia dianggap perempuan kaum menak yang independen. Ia memiliki karakter yang tegar dan pemberani hingga mampu mewujudkan cita-citanya untuk memajukan kaum wanita. Maka lahirlah perempuan-perempuan seperti dia dalam masyarakat Sunda. Penyabar, tegar, dan pemberani.

2. KARAKTER PEREMPUAN SUNDA DALAM JAIPONGAN
Karakter perempuan Sunda yang telah digambarkan di atas, dalam masyarakat Sunda lama yang dilukiskan dari cerita Pantun seperti tokoh Sunan Ambu, Dewi Asri, Nyi Sumur Bandung, maupun Purbasari, adalahberwibawa, kharismatik, penuh cinta kasih, pendidik, penolong, pelindung, penyabar, tegar dan memiliki hati yang lembut. Demikian halnya yang digambarkan dalam sejarah terutama ketika Raden Dewi Sartika yang hidup di kalangan menak yang merasa tertekan dengan keadaan. Ia berani berjuang untuk kaumnya agar mendapat perlakuan yang sama dengan pria. Dari gambaran cerita Raden Dewi sartika tersebut dapat dibaca bahwa karakter perempuan saat itu adalah, sabar, tegar, dan penuh perjuangan, tetapi sikap sopan santun tetap dijaga. Kehidupan masyarakat dari zaman ke zaman terus berubah sesuai dengan perubahan sosial masyarakatnya. Demikian halnya dengan karakter perempuan masyarakat Sunda, muncul perubahan-perubahan yang signifikan dalam perilaku menyikapi kehidupan.

Perubahan karakter perempuan Sunda tersebut tergambar dalam sebuah karya tari yang dikreasikan oleh Gugum Gumbira yaitu Jaipongan. Jaipongan yang lahir akhir tahun 1970-an dan populer tahun 1980-an ini memunculkan karakter perempuan yang semakin membuka diri. Pada masa tersebut termasuk sebagai masa orde baru yang dapat dikatakan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Salah satu faktornya adalah kondisi sosial, politik, dan ekonomi saat itu dalam keadaan “stabil”. Situasi dan kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap karya-karya tari.

Kehidupan tari yang sebelumnya, atau yang hidup sebelum lahirnya Jaipongan, masih memperlihatkan sikap-sikap feodal yang banyak aturan dan larangan. Misalnya perempuan di kalangan menak tabu untuk menari karena citra penari yang dulu populer dengan istilah ronggeng sangat jelek di mata masyarakat kaum bangsawan. Oleh sebab itu perempuan tidak diizinkan untuk menari. Sementara yang boleh menari adalah para kaum menak laki-laki saja. Kendatipun dalam sajian Tayuban yang sangat populer di kalangan menak ada perempuannya itu adalah perempuan yang berasal dari kaum somah, yaitu penari-penari ronggeng dari kalangan rakyat.

Tahun 1930-an mulcul karya R. Tjetje Somantri yang mampu merubah image penari perempuan dari pandangan tabu menjadi tidak tabu lagi, karena ia menciptakan tari-tarian perempuan di kalangan menak. Karakter tarian yang diungkapkan sebatas keceriaan dengan penuh keanggunan. Gerak-geraknya yang halus, lembut, dengan aturan-aturan pola gerak yang sesuai dengan etika perempuan menak yang dianggap masyarakat kebanyakan memiliki tingkat kesopanan yang wajar sebagai perempuan kalangan menak.

Ketika muncul karya-karya Jaipongan, baik yang dikresikan oleh Gugum Gumbira sebagai pelopornya, maupun oleh kreator-kreator generasi penerusnya. Ternyata karakter tarian yang diungkapkan sangat berbeda dengan tari-tarian sebelumnya. Tari perempuan yang diungkapkan memiliki ungkapan gerak yang lebih bebas dan luas. Dilihat dari gerakan kepala, tangan, badan, maupun kaki tampak sangat leluasa. Salah satu faktor yang menyebabkan lahirnya gerakan-gerakan yang lebih leluasa, sebab sumber gerak yang diambilnya adalah berasal dari kalangan rakyat. Sumber utamanya dari Ketuk Tilu yang juga di dalamnya ada unsur Pencak Silat kemudian dilengkapi dengan sumber lain dari pertunjukan rakyat di daerah kaleran. Seperti Banjet dari Karawang maupun Bajidoran dari Subang dan Karawang.

Ciri utama dalam sajian seni rakyat memiliki kebebasan dalam berkespresi tidak terpaku oleh aturan-aturan baku yang membelenggu ruang gerak. Selain itu, gerakan tari perempuan dalam Jaipongan dikreasikan dari gerakan pencak silat yang tidak memandang jenis kelamin. Ungkapan gerak pencak silat baik untuk perempuan maupun laki-laki adalah sama, tidak ada perbedaan yang signifikan. Gerakan pencak yang dituangkan dalam tari Daun Pulus Keser Bojong, misalnya, menjadi gerakan yang cantik dan indah diungkapkan oleh perempuan karena gerakan pencak telah distilir kedalam gerakan tari. Gerak gibas, tangkis, giwar, meupeuh dan sebagainya menjadi ungkapan yang tidak kentara sumber geraknya, padahal gerak tersebut memiliki makna dan simbol yang jelas.

Beberapa contoh gerakan dalam Jaipongan akan dibaca bagaimana hubungannya dengan karakter perempuan Sunda yang kekinian. Gerakan cingeus yang diungkapan melalui gerak kepala maupun badan sebagai gambaran karakter perempuan yang gesit penuh antusias dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan ini. Kegesitan terungkap pula dalam gerakan kaki, seperti meloncat, depok, ngerecek, mincid, sirig, sonteng, dan sebagainya. Hal ini bisa juga dibaca bahwa perempuan Sunda hampang birit. Dari gerakan kaki dapat juga dibaca bahwa perempuan Sunda masa kini banyak yang “jalingkak”. Tidak seanggun perempuan masa lalu yang andalemi dibalik bungkusan kain kebaya. Gerak galeong badan dan kepala yang mengalir legato disertai dengan lirikan mata dan senyuman genit. Sebagai gambaran karakter perempuan yang kenes. Gerakan tangan dan kaki yang terbuka lebar, sebagai gambaran karakter yang terbuka dan memiliki kekuatan serta jujur. Gerak liukan tubuh yang lentur dari ujung kaki hingga kepala sebagai gambaran karakter yang fleksibel tidak kaku dalam menghadapi berbagai persoalan. Apabila dilihat dari tempo dan dinamika gerakan maupun musik yang variatif seperti ada tempo cepat, lambat, sedang, yang dikreasikan dalam Jaipongan dapat dibaca dan dimaknai bahwa karakter perempuan Sunda kekinian tidak monoton, penuh dinamika, dalam arti tidak membosankan.

KESIMPULAN
Jaipongan sebagai sebuah genre baru dalam pertunjukan tari di Jawa Barat merupakan bentuk ekspresi yang dikomunikasikan kepada para penikmatnya lewat gerak. Sebagai sebuah seni pertunjukan Jaipongan dapat disebut media komunikasi yang diungkapkan melalui medium gerak antara kreator (seniman) dan apresiator, yang kemudian dapat ditafsirkan oleh keduanya. Jaipongan diciptakan oleh kreator dengan tafsir dan maknanya sendiri. Kemudian Jaipongan ditonton atau diapresiasi oleh penikmat seni dengan tafsir dan makna tersendiri pula. Oleh sebab itu penulis sebagai penikmat memberi makna tersendiri dalam menafsirkan gerakan Jaipongan.

Jaipongan sebagai bentuk seni mengandung simbol-simbol tertentu yang dapat dibaca dan ditafsirkan oleh setiap orang. Simbol menjadi sesuatu yang penting bagi manusia. Penulis membaca Jaipongan mengandung simbol sebagai pemberontakan dan kebebasan dari kaum perempuan yang selalu terbelunggu dengan berbagai aturan yang sangat mengikat, sehingga membatasi ruang gerak dari kaum perempuan. Dari ungkapan gerak yang dituangkan dalam Jaipongan dapat memberi gambaran bahwa karakter perempuan Sunda kekinian di antaranya penuh semangat, ramah, berani, kuat, jujur, kenes/genit, pejuang, hampang birit atau gesit, lincah, dan tidak membosankan. Di samping itu, perempuan Sunda kekinian banyak yang jalingkak seperti banyak terungkap dalam gerak Jaipongan. Banyak orang berpendapat bahwa perempuan Sunda adalah pemalas, namun bila membaca Jaipongandan membaca keberadaan perempuan Sunda masa kini pendapat tersebut sudah tidak relevan lagi sebagai karakter perempuan Sunda kekinian. Sementara pendapat mengenai perempuan Sunda cantik dan senang berdandan, hal itu tidak dapat dipungkiri karena bila melihat tampilan penari Jaipongan tentu akan terpesona dengan dandanannya yang selalu ingin menonjolkan kecantikan.

Raden Tjetje Somantri


Raden Tjetje Somantri adalah saeorang pelopor tari kreasi Jawa Baratyang juga merupakan salah seorang yang mendirikan Badan Kebudayaan Djawa Barat (BKDKB) dan Badan Kebudayaan Indonesia (BKI).
R. Tjetje Somantri yang juga pengajar tari Sunda mulai melihat wilayah tari kreasi pada tahun 1946 dengan menciptakan Tari Dewi. Kemudian beberapa tari kreasi lain yang diciptakannya antara lain: Anjasmara I dan II (1946), Puragabaya (1947), Kendit Birayung (1947), Dewi Serang dan Sulintang (1948). Kemudian dari mulai tahun 1949, R Tjetje Somantri lebih banyak menciptakan tari kreasi untuk ditarikan oleh gadis-gadis, antara lain: Komala Gilang Kusumah, Ratu Graeni (1949), Topeng Koncaran, Srigati, Golek Purwokertoan (1950), Rineka Sari (1951), Kukupu (1952), Sekar Putri (1952-1954), Tari Merak (1955), Golek Rineka (1957), Nusantara, Anjasmara III dan Renggarini (1958).
R. Tjetje Somantri lahir di Bandung pada tahun 1891 dari ibu Nyi Raden Siti Munigar, gadis ningrat asal Bandung, serta ayahnya bernama Raden Somantri. Pendidikan yang dilaluinya adalah HIS dan MULO di Bandung. Pernah meneruskan ke MOSVIA tetapi tidak sampai tamat. Belajar tari tayub pertama kali di Kabupaten Purwakarta pada tahun 1911, dari R. Gandakusumah (Aom Doyot). Juga belajar tari wayang dari Aom Menin, Camat Buahbatu di Bandung.
R. Tjetje Somantri sebagai pelopor tari kreasi Sunda tidak bekerja sendiri, ia bekerja sama dengan Tb. Umay Martakusumah yang banyak memberikan saran tentang busana / kostum yang di kenakan dalam kreasi tarinya, kemudian dibantu oleh Bapak Kayat sebagai penata gending serta R. Barnas Prawiradiningrat turut membantu dalam pemikiran tentang pola lantai pada tari-tari kreasi yang sifatnya rampak.
Dalam menciptakan tari kreasi, R. Tjetje Somantri terus menggali hal yang dianggap baru. Hal ini terbukti dengan disempurnakannya tari Renggarini menjadi tari Kandagan (1960). Setahun setelah itu diciptakannya lagi tari kreasi yang diberi nama tari Pancasari, Srenggana (1961) dan pada tahun 1962 diciptakan tari kreasi Panji Nayadirana, serta kreasi tarinya yang terakhir adalah tari Patih Ronggana (1963).
Tari Kreasi identik dengan R. Tjetje Somantri, maka tak heran jika beberapa penari Sunda terkemuka kebanyakan pernah belajar kepadanya, di antaranya Tb. Maktal, Enoch Atmadibrata, Irawati Durban, Indrawati Lukman, R. Ahmad Basah, R. Nani Suwarni, Ani Satriyah, Tb. Atet, R. Dida Hasanudin, R. Tien Sri Kartini, Kustilah, Herlina, Imas Sonianingsih, R. Yuyun Kusumahdinata.
Beberapa tari kreasi ciptaan R. Tjetje Somantri hingga kini masih diajarkan di beberapa sanggar tari, perguruan tinggi seni dan sekolah kesenian, antara lain: Tari Sekar Putri, Tari Anjasmara, Tari Sulintang, Tari Kandagan, Tari Merak, Tari Kupu-kupu, Tari Ratu Graeni, dan Tari Koncaran. Sedangkan tari-tarian yang paling sering ditampilkan dalam pertunjukan-pertunjukan adalah Tari Merak, Tari Kandagan, Tari Sulintang, Tari Topeng Koncaran, dan Tari Kupu-kupu. Sementara itu, murid-muridnyanya pun hampir semua telah menjadi pencipta tari kreasi yang cukup diperhitungkan dalam kehidupan tari Sunda.

Mengenal Tokoh Seniman

Prof. Dr. Endang Caturwati: Inspirasi yang Tak Terduga


 Siapa sangka, di tengah kesibukannya sebagai seorang birokrat, Prof. Dr. Endang Caturwati, SST masih menelurkan karya inspiratif yang tertuang dalam tembang atau lagu. Wanita yang puluhan tahun menggeluti dunia seni tari membuatnya lebih mencintai budaya Indonesia. Dengan keragaman kultur, Endang Caturwati mengakui kekayaan seni tari Nusantara.
Dijumpai di sela-sela kesibukannya Rabu, (26/2), perempuan kelahiran Bandung, 25 Desember 1956 itu mengakui jika sejak bekerja di Jakarta, dirinya kerap mendapat inspirasi yang tak terduga dari apa yang dialami sehingga membuatnya terlintas untuk ia tuangkan dalam bait-bait lagu.
Ternyata itu bukan sekedar basa-basi semata, ia membeberkan empat lagu dan dua tarian ciptaannya sendiri yang ia nyanyikan dan ia perlihatkan gaya tariannya di depan kami.
Keempat lagu tersebut adalah berjudulKanyaah Indung BapakKatineung,Angan-angan dan Kasih Tak Bertepi. Sementara dua tarian itu ia beri namaKembang Ligar dan Kelangan. Tak berhenti di situ, ternyata karyanya itu memiliki makna filosofis yang cukup dalam dan wanita yang juga Pembina Utama dan Guru Besar Bidang Pengkajian Seni Pertunjukan di STSI Bandung itu membeberkannya.
“Saya ciptakan selama di Jakarta dalam keadaan macet atau pesawat dilay : lagu Sunda berlaras Pelog Sorog Kanyaah Indung Bapak dan Katineung. Dalam irama wals dan jazz :Angan-angan dan Kasih tak Bertepi. Semua lagu tarian saya intinya bertujuan dakwah paling tidak untuk diri saya, anak saya dan cucu saya,”kata putri dari seniman karawitan Jawa, Barjo Herman itu.
“Kasih Tak Bertepi: betapa besarnya kasih Tuhan kepada umatnya. Kanyaah Indung Bapak: kedua orang tua kita menjadikan kita hidup, kasihnya tiada bandingannya,”tambah perempuan berparas ayu menawan ini.
endang2
“Tarian karya terbaru: Kelangan dan Kembang Ligar. Kelangan itu menggambarkan manusia yang kehilangan  jati diri, tetapi kemudian sadar setelah tahu nilai-nilai luhur bangsa  dan agama dipahami. Kembang ligar artinya manusia ibarat  bunga, kuncup mekar dan layu. Ketika mekar harus saling mengharumi sesama, jangan congkak , karena akhirnya akan layu tidak abadi,”urai Endang sambil sesekali memperlihatkan kelenturan tubuhnya menari.
Kami pun bertanya lebih dalam perihal kesibukkanya sebagai Pembina Utama dan Guru Besar Bidang Pengkajian Seni Pertunjukan di STSI Bandung dan juga Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kenapa bisa awalnya seorang penari tapi kemudian bisa jadi birokrat juga? Dengan tenang Endang pun menjawab.
“Kalau saya ditanya kenapa penari bisa jadi seorang birokrat, ya karena saya sekolah dan berorganisasi,”jawabnya.
Endang pun tidak menampik jika dirinya kerap disibukkan dengan pekerjaannya sebagai seorang birokrat. Kendati demikian, kesibukan itu berjalan seiring dengan kegemarannya dalam seni tari dan tembang.
Sebab, perempuan berkacamata itu menjelaskan setiap gerakan tari tradisional itu memiliki nilai tersendiri dalam kehidupan.
Rekam jejak ibu dua ini pun patut diacungi jempol.  Selain banyak mempublikasikan karya ilmiah di berbagai jurnal,  dan berkesenian, Endang juga sempat menerima beberapa penghargaan seperti sebagai Dosen Berprestasi Tingkat I STSI Bandung (2006), Manajemen Jurnal Teraktreditasi Dikti Instrumen 2006 (Ketua Penyunting Jurnal Teraktreditasi Panggung, 2007
Kini, dia menjabat sebagai ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung periode 2012-2016. Sebagai orang nomor satu di lembaga pencetak seniman itu, Endang mengaku ingin memajukan almamaternya.
“Jadi ulah epes me’er (jangan kalah sebelum perang ). Saya ingin lulusan seni tari nggak mudah menyerah dengan persaingan global sekarang,”katanya.(PNC/AGS-AMD)

GUGUM GUMBIRA

Dr. Gugum Gumbira Tirasondjaja (sering dikenal sebagai Gugum Gumbira; lahir di Bandung, 4 April 1945; umur 69 tahun) adalah komposer Sunda, pemimpin orkestra, koreografer, dan pengusaha dari Bandung, Jawa Barat, Indonesia.



Jaipongan

Pada tahun 1961, Presiden Indonesia, Sukarno melarang musik rock and roll dan genre barat lainnya dan musisi Indonesia tertantang untuk menghidupkan kembali seni pribumi. Gugum Gumbira pun mengambil tantangan, belajar tari pedesaan dan festival musik selama dua belas tahun. Jaipongan, atau Jaipong, adalah hasil yang paling populer dari studinya yang memperbarui musik ritual desa bernama ketuk tilu dengan gerakan dari Pencak Silat, seni bela diri Indonesia, dan musik dari tarian teater bertopeng, Topeng Banjet, dan teater Wayang Golek.
Dalam ketuk tilu asli, kelompok biasanya terdiri dari pot-gong ketuk tilu, gong kecil lainnya, rebab, drum barel, dan seorang perempuan penyanyi-penari (ronggeng) yang sering juga melacur, mengajak laki-laki untuk menari dengannya secara sensual. Gugum memperluas bagian drum sebagai bagian dari gamelan perkotaan, mempercepat musik, mendefinisikan ulang penyanyi hanya sebagai penyanyi (sinden), dan datang dengan nama onomatope yang menarik. Banyak pendengar menganggap bahwa musik ini sangat kompleks dengan irama yang dinamis.
Jaipongan memulai debutnya pada 1974 ketika Pak Gugum beserta gamelan dan penari pertamanya tampil di depan umum. Pemerintah sporadis berupaya untuk menekan ini karena amoralitas yang dirasakan (mewarisi beberapa sensualitas ketuk tilu) yang hanya membuatnya lebih populer. Tarian ini selamat bahkan setelah larangan resmi Indonesia pada musik pop asing selama beberapa tahun, dan menggila pada 1980-an. Pada pertengahan 1980-an, Jaipongan sebagai tarian sosial telah memudar, tapi tetap populer sebagai tari panggung, dilakukan oleh perempuan, pasangan campuran atau sebagai solo.
Album Jaipongan yang paling banyak tersedia di luar Indonesia adalah Tonggeret oleh Idjah Hadidjah dan Gugum Gumbira Jugala orkestra, yang dirilis pada tahun 1987 dan kembali dirilis sebagai Jawa Barat: Jaipong Sunda dan Musik Populer lainnya]] oleh Nonesuch / Elektra Records.

Jugala

Studio Jugala Gugum Gumbira di Bandung berfungsi sebagai dasar untuk orkestra Jugala itu sendiri dan kelompok tari, telah menciptakan dan merekam beberapa musisi lainnya, termasuk Sabah Habas Mustapha dan The Residents.
Orkestra Jugala termasuk instrumen gamelan Sunda, drum, rebab dan suling, memainkan jaipongan dan musik degung kontemporer.

Pribadi

Gugum Gumbira menikah dengan Euis Komariah, yang bernyanyi Orkestra Jugala. Putri mereka, Mira Tejaningrum (lahir 4 Maret 1969), adalah penari dan koreografer untuk kelompok tari Jugala.

Minggu, 01 Februari 2015

MARI MENARI

PENGERTIAN SENI TARI


Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan.

Gerakan tari berbeda dari gerakan sehari-hari seperti berlari, berjalan, atau bersenam. Gerak di dalam tari bukanlah gerak yang realistis, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif dan estetis.

Sebuah tarian sebenarnya merupakan perpaduan dari beberapa buah unsur,yaitu wiraga (raga), Wirama (irama), dan Wirasa (rasa). Ketiga unsur ini melebur menjadi bentuk tarian yang harmonis. Unsur utama dalam tari adalah gerak. Gerak tari selalu melibatkan unsur anggota badan manusia. Unsur- unsur anggota badan tersebut didalam membentuk gerak tari dapat berdiri sendiri, bergabung ataupun bersambungan.

Panduan Lengkap CARA CEPAT HAMIL oleh dr. Rosdiana Ramli, SpOG 

Menurut jenisnya, tari digolongkan menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru. Dansa adalah tari asal kebudayaan Barat yang dilakukan pasangan pria-wanita dengan berpegangan tangan atau berpelukan sambil diiringi musik.Sedangkan berdasarkan koreografinya, jenis tari dibedakan menjadi :
  • Tari tunggal ( Solo ), Tari tunggal adalah tari yang diperagakan oleh seorang penari, baik laki-laki maupun perempuan. Contohnya tari Golek ( Jawa Tengah ).
  • Tari berpasangan ( duet/pas de duex), Tari berpasangan adalaah tari yang diperagakan oleh dua orang secara berpasangan. Contohnya tari Topeng (Jawa Barat).
  • Tari kelompok ( Group choreography), Tari kelompok yaitu tari yang diperagakan lebih dari dua orang.
Dalam sebuah tarian (terutama tari kelompok), pola lantai perlu diperhatikan. Ada beberapa macam pola lantai pada tarian, antara lain :
1. Pola lantai vertikal : Pada pola lantai ini, penari membentuk garis vertikal, yaitu garis lurus dari depan ke belakang atau sebaliknya.
2. Pola lantai Horizontal : Pada pola lantai ini, penari berbaris membentuk garis lurus ke samping.

3. Pola lantai diagonal : Pada pola lantai ini, penari berbaris membentuk garis menyudut ke kana atau ke kiri.
4. Pola lantai melingkar : Pada pola lantai ini, penari membentuk garis lingkaran.
Seni tari yang ada di Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa kelompok :

TARI TRADISIONAL

Tari tradisional merupakan sebuah bentuk tarian yang sudah lama ada. Tarian ini diwariskan secara turun temurun. Sebuah tarian tradisional biasanya mengandung nilai filosofis, simbolis dan relegius. Semua aturan ragam gerak tari tradisional, formasi, busana, dan riasnya hingga kini tidak banyak berubah

TARI TRADISIONAL KLASIK

Tari tradisional klasik dikembangkan oleh para penari kalangan bangsawan istana. Aturan tarian biasanya baku atau tidak boleh diubah lagi. Gerakannya anggun dan busananya cenderung mewah. Fungsi : sebagai sarana upacara adat atau penyambutan tamu kehormatan. Contoh : Tari Topeng Kelana (Jawa Barat), Bedhaya Srimpi (Jawa Tengah), Sang Hyang (Bali), Pakarena dan pajaga (Sulawesi Selatan)

TARI TRADISIONAL KERAKYATAN

Berkembang di kalangan rakyat biasa. Gerakannya cenderung mudah Ditarikan bersama juga iringan musik. Busananya relatif sederhana. Sering ditarikan pada saat perayaan sebagai tari pergaulan. Contoh: Jaipongan (Jawa Barat), payung (Melayu), Lilin (Sumatera Barat)

TARI KREASI BARU

Merupakan tarian yang lepas dari standar tari yang baku. Dirancang menurut kreasi penata tari sesuai dengan situasi kondisi dengan tetap memelihara nilai artistiknya. Tari kreasi baik sebagai penampilan utama maupun sebagai tarian latar hingga kini terus berkembang dengan iringan musik yang bervariasi, sehingga muncul istilah tari modern. .Pada garis besarnya tari kreasi dibedakan menjadi dua golongan yaitu:

1. Tari Kreasi Baru Berpolakan Tradisi
Yaitu tari kreasi yang garapannya dilandasi oleh kaidah-kaidah tari tradisi, baik dalam koreografi, musik/karawitan, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. Walaupun ada pengembangan tidak menghilangkan esensiketradisiannya.

2. Tari Kreasi Baru Tidak Berpolakan Tradisi (Non Tradisi)
Tari Kreasi yang garapannya melepaskan diri dari pola-pola tradisi baik dalam hal koreografi, musik, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. Walaupun tarian ini tidak menggunakan pola-pola tradisi, tidak berarti sama sekali tidak menggunakan unsur-unsur tari tradisi, mungkin saja masih menggunakannya tergantung pada konsep gagasan penggarapnya. Tarian ini disebut juga tari modern, yang istilahnya berasal dari kata Latin “modo” yang berarti baru saja.

TARI KONTEMPORER


Gerakan tari kontemporer simbolik terkait dengan koreografi bercerita dengan gaya unik dan penuh penafsiran. Seringkali diperlukan wawasan khusus untuk menikmatinya. iringan yang dipakai juga banyak yang tidak lazim sebagai lagu dari yang sederhana hingga menggunakan program musik komputer seperti Flutyloops.