Raden Tjetje Somantri
Raden Tjetje Somantri
adalah saeorang pelopor tari kreasi Jawa Baratyang juga merupakan salah
seorang yang mendirikan Badan Kebudayaan Djawa Barat (BKDKB) dan Badan
Kebudayaan Indonesia (BKI).
R. Tjetje Somantri yang juga pengajar tari Sunda mulai melihat
wilayah tari kreasi pada tahun 1946 dengan menciptakan Tari Dewi.
Kemudian beberapa tari kreasi lain yang diciptakannya antara lain:
Anjasmara I dan II (1946), Puragabaya (1947), Kendit Birayung (1947),
Dewi Serang dan Sulintang (1948). Kemudian dari mulai tahun 1949, R
Tjetje Somantri lebih banyak menciptakan tari kreasi untuk ditarikan
oleh gadis-gadis, antara lain: Komala Gilang Kusumah, Ratu Graeni
(1949), Topeng Koncaran, Srigati, Golek Purwokertoan (1950), Rineka Sari
(1951), Kukupu (1952), Sekar Putri (1952-1954), Tari Merak (1955), Golek Rineka (1957), Nusantara, Anjasmara III dan Renggarini (1958).
R. Tjetje Somantri lahir di Bandung
pada tahun 1891 dari ibu Nyi Raden Siti Munigar, gadis ningrat asal
Bandung, serta ayahnya bernama Raden Somantri. Pendidikan yang
dilaluinya adalah HIS dan MULO di Bandung. Pernah meneruskan ke MOSVIA
tetapi tidak sampai tamat. Belajar tari tayub pertama kali di Kabupaten
Purwakarta pada tahun 1911, dari R. Gandakusumah (Aom Doyot). Juga
belajar tari wayang dari Aom Menin, Camat Buahbatu di Bandung.
R. Tjetje Somantri sebagai pelopor tari kreasi Sunda tidak bekerja
sendiri, ia bekerja sama dengan Tb. Umay Martakusumah yang banyak
memberikan saran tentang busana / kostum yang di kenakan dalam kreasi
tarinya, kemudian dibantu oleh Bapak Kayat sebagai penata gending serta
R. Barnas Prawiradiningrat turut membantu dalam pemikiran tentang pola
lantai pada tari-tari kreasi yang sifatnya rampak.
Dalam menciptakan tari kreasi, R. Tjetje Somantri terus menggali hal
yang dianggap baru. Hal ini terbukti dengan disempurnakannya tari
Renggarini menjadi tari Kandagan (1960). Setahun setelah itu
diciptakannya lagi tari kreasi yang diberi nama tari Pancasari,
Srenggana (1961) dan pada tahun 1962 diciptakan tari kreasi Panji
Nayadirana, serta kreasi tarinya yang terakhir adalah tari Patih
Ronggana (1963).
Tari Kreasi identik dengan R. Tjetje Somantri, maka tak heran jika beberapa penari Sunda
terkemuka kebanyakan pernah belajar kepadanya, di antaranya Tb. Maktal,
Enoch Atmadibrata, Irawati Durban, Indrawati Lukman, R. Ahmad Basah, R.
Nani Suwarni, Ani Satriyah, Tb. Atet, R. Dida Hasanudin, R. Tien Sri
Kartini, Kustilah, Herlina, Imas Sonianingsih, R. Yuyun Kusumahdinata.
Beberapa tari kreasi ciptaan R. Tjetje Somantri hingga kini masih
diajarkan di beberapa sanggar tari, perguruan tinggi seni dan sekolah
kesenian, antara lain: Tari Sekar Putri, Tari Anjasmara, Tari Sulintang,
Tari Kandagan, Tari Merak, Tari Kupu-kupu, Tari Ratu Graeni, dan Tari
Koncaran. Sedangkan tari-tarian yang paling sering ditampilkan dalam
pertunjukan-pertunjukan adalah Tari Merak, Tari Kandagan, Tari
Sulintang, Tari Topeng Koncaran, dan Tari Kupu-kupu. Sementara itu,
murid-muridnyanya pun hampir semua telah menjadi pencipta tari kreasi
yang cukup diperhitungkan dalam kehidupan tari Sunda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar