Oleh: Een Herdiani
Disampaikan dalam Seminar Nasional Semiotik, Pragmatik, dan Kebudayaan
30 Mei 2013 di FIPB Universitas Indonesia
Jaipongan
merupakan salah satu genre tari Sunda yang muncul awal tahun 1980-an.
Tarian ini hasil kreativitas Gugum Gumbira yang mengangkat keragaman
tari hiburan Rakyat Tatar Sunda. Tarian yang awalnya berfungsi hiburan
yang berkembang di kalangan rakyat mampu dikemas dalam bentuk tari
pertunjukan yang sangat memikat. Khususnya di Jawa Barat, kehadiran
Jaipongan menjadi sesuatu yang menyentuh rasa kecintaan masyarakat
terhadap tari Sunda. Maka, dalam waktu yang relatif singkat perkembangan
Jaipongan sangat signifikan yang kemudian digandrungi masyarakat
berbagai kalangan di Jawa Barat, bahkan di Indonesia.
Kini, jaipongan telah mengakar menjadi ikon tari Sunda. Gerakannya yang
atraktif musiknya yang dinamik memberi daya rangsang luar biasa
terhadap para penikmat untuk larut di dalamnya. Gerakan tangan yang
menempati ruang gerak tak terbatas; sikap kaki yang terbuka lebar dengan
jangkauan gerak bawah, tengah, dan atas dengan lincah; gerakan tubuh
yang meliuk; hentakan-hentakan tegas dari seluruh bagian tubuh yang
terkadang muncul dengan gerak mengalun, berpadu dalam sebuah dinamika
yang estetis.
Dari pembacaan tanda yang diungkapkan lewat seluruh gerak tubuh dapat
disimpulkan bahwa Jaipongan merupakan simbol karakteristik dari sosok
perempuan Sunda masa kini. Yakni pemberani, mandiri, bertanggung jawab,
lincah,pekerja keras, romantis, dan ceria, yang dapat diliha salah
satu dari gerakan yang diungkapkan dalam Jaipongan. Penanda gambaran
karakteristik perempuan Sunda tidak hanya terlihat dari gerakan, namun
terlihat pula dari musik pengiring tarian, lirik nyanyian, serta
kostumnya. Secara unity karakteristik perempuan Sunda kekinian sangat
tampak dalam Jaipongan.
Kata Kunci: Jaipongan, simbol, perempuan Sunda.
PENDAHULUAN
Jaipongan merupakan salah satu genre tari Sunda yang embrio kelahirannya
muncul sejak tahun 1974. Mulai dikenal masyarakat luas pada tahun
1980. Sejak itu Jaipongan berkembang pesat. Dalam waktu yang relatif
singkat tarian ini telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Jawa Barat.
digemari masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Tarian
ini membumi sejak tahun 1980-an. Tarian ini sudah populer sebagai ikon
tari Sunda. Popularitasnya terus menanjak sehingga semua kalangan
masyarakat dari masyarakat kelas bawah hingga Apa lagi setelah tiga
tahun lalu kelompok tari Jaipongan Rumingkang masuk ketiga besar ajang
pencarian bakat yang digelar di Trans 7. Apalagi sekarang Sandrina yang
menjadi pemenang dalam acara Indonesia Mencari Bakat, yang mahir tari
Jaipong. Oleh sebab itu mempelajari Jaipongan kini menjadi trend
kembali dalam masyarakat Sunda khususnya di kalangan masyarakat usia
dini.
Jaipongan lahir dari sebuah keinginan Gugum Gumbira untuk mengangkat
seni rakyat yang saat itu berfungsi sebagai seni hiburan menjadi seni
pertunjukan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat.
Hasilnya, sangat mengejutkan, seni rakyat yang telah dikemas dalam
bentuk baru yang diberi nama Jaipongan menjadi tarian yang sangat
populer. Gugum Gumbira telah membuat terobosan baru dengan mengangkat
genre tari rakyat menjadi sebuah seni pertunjukan lintas strata sosial.
Tarian yang lahir dari masyarakat kalangan menengah ini digemari oleh
kalangan bawah hingga kalangan atas. Tarian yang awalnya sebagai
konsumsi masyarakat kecil menjadi konsumsi masyarakat atas hingga hadir
di istana negara.Kehadiran Jaipongan menyentuh rasa kecintaan masyarakat
terhadap seni tari. Saat itu, demam Jaipongan pun terjadi di hampir
seluruh pelosok tatar Sunda. Laki-laki maupun perempuan, anak-anak
maupun dewasa tidak ada pengecualian berbondong-bondong belajar
Jaipongan. Terutama lebih dominan perempuan.
Tahun 1980-an, banyak perempuan Sunda yang merasa malu bila tidak dapat
menari Jaipongan. Hal ini sangat menarik, mengapa hingga terjadi
fenomena semacam itu. Ada apa dibalik semua peristiwa tersebut.
Perempuan Sunda yang awalnya dikenal sebagai perempuan anggun, lungguh,
pemalu, tiba-tiba menjadi berani tampil di depan publik.Banyak orang
menganggap bahwa perempuan Sunda memiliki stereotif sebagai
wanita-wanita yang cantik, anggun, pandai berdandan, ramah, tetapi
pemalas.
Walaupun pendapat tersebut hanya berupa ungkapan lisan yang sering
dilontarkan banyak orang, namun hal itu perlu diamati kesesuaiannya.
Harus ada pengkajian tentang permasalahan itu untuk menemukan jawaban.
Hal ini sah-sah saja tergantung orang melihatnya dari sudut pandang yang
mana. Prototipe perempuan Sunda seperti disebutkan di atas, bila
diamati dari sudut pandang estetika tari, terdapat hal yang menarik.
Tari sebagai bahasa tubuh yang diungkapkan oleh koreografer dan
penarinya disajikan supaya dapat dibaca dan dipahami oleh penikmatnya.
Umumnya ungkapan tarian menggambarkan kehidupan suatu masyarakat atau
indivitu yang tidak akan lepas dari lingkungan yang menghidupinya .
Demikian pula dalam ungkapan gerak tari Jaipongan. Penulis melihat bahwa
Jaipongan adalah tarian yang dapat memberi gambaran perempuan Sunda
kekinian yang energik. Gerak Jaipongan yang atraktif dan dinamis mampu
menunjukkan bahwa perempuan Sunda adalah perempuan yang penuh semangat,
penuh perjuangan, kuat, ramah, lincah, kenes, dan pemberani. Di samping
itu, keindahan dan kecantikan selalu ingin diungkapkan dan ditonjolkan.
Dibalik kelembutan tari Jaipong terdapat gerakan-gerakan gesit, sedikit
“jalingkak” maskulin tetapi terungkap dalam gerakkan nan indah.
Penulis menganggap bahwa bentuk-bentuk gerak yang muncul sebagai
ungkapan karakter perempuan Sunda kekinian. Perubahan penting terjadi
dalam karakter perempuan Sunda yang dulu cenderung “pasrah sumerah”
nerima terhadap penguasanya kini menjadi perempuan gesit yang tangguh,
pemberani, dan penuh daya tarik. Itulah keunikan Gugum Gumbira sebagai
koreografer tari Jaipong telah mampu mengungkapkan perubahan penting
dalam karakter perempuan Sunda. Ada simbol-simbol yang terkandung di
dalam gerakan tari yang diungkapkan, yaitu simbol karakteristik
perempuan Sunda kekinian.
JAIPONGAN DALAM MASYARAKAT SUNDA
Istilah Jaipong sudah dikenal di daerah utara Jawa Barat khususnya
Karawang sekitar tahun 1975. Jaipong sering diungkapkan oleh penari
bodor (pelawak) dalam pertunjukan Banjet, ketika ia menirukan bunyi
kendang. Ia adalah Askin (pemimpin Topeng Banjet dari Karawang) yang
sering meminta Suwanda (tukang kendang) untuk mengisi atau mengiringi
gerakkannya dengan pukulan kendang.1) Istilah Jaipong saat itu tidak
sepopuler ketika sudah dipergunakan oleh Gugum Gumbira untuk menamakan
karya tarinya.
Tahun 1978, Gugum mengkreasikan sebuah karya tari yang bersumber dari
ketuk tilu, pencak silat, dan pertunjukkan rakyat lain yang langsung
banyak menyita perhatian publik. Tarian tersebut lahir dari sebuah
keinginan Gugum Gumbira untuk mengangkat seni rakyat yang saat itu
berfungsi sebagai seni hiburan. Berbagai sumber tarian rakyat di tatar
Sunda dikemas menjadi bentuk pertunjukan dengan tujuan untuk dapat
dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Gugum berkeinginan untuk
mengangkat ciri mandiri tari Sunda yang dipandangnya memiliki nilai
jual. Setelah melalui proses penciptan tari yang tergolong unik, Gugum
melahirkan karyanya yang diberi judul Ketuk Tilu Perkembangan atau
disebut juga Ketuk Tilu Gaya Baru. Tarian ini pertama kali
dipertunjukkan di lingkungan kampus Akademi Seni Tari Indonesia Bandung
sebelum diikut sertakan dalam festival kesenian rakyat di Hongkong.
Pada awalnya, Gugum Gumbira sendiri yang menjadi penarinya ia
berpasangan dengan Tati Saleh. Sajian tersebut mengundang polemik yang
cukup besar terutama bagi kalangan seniman tradisi. Kendatipun mendapat
kecaman dari berbagai pihak Gugum tidak bergeming untuk tetap melahirkan
karyanya yang lain. Masih dalam tahun yang sama, yaitu akhir tahun
1978, ia melahirkan tari Daun Pulus Keser Bojong dan Rendeng Bojong.
Dengan ditampilkannya tarian tersebut berbagai forum diskusi dilakukan
oleh organisasi pemerintah maupun swasta untuk merespon secara positif
maupun negatif terhadap karya Gugum. Berbagai usulan dilemparkan para
seniman dan budayawan untuk memberi nama pada genre yang dibuatnya. Maka
muncullah istilah Jaipongan untuk menyebut karya-karya tari baru dari
Gugum Gumbira. Hasilnya, sangat mengejutkan, seni rakyat yang telah
dikemas dalam bentuk baru yang diberi nama Jaipongan menjadi tarian
yang sangat populer. Gugum Gumbira telah membuat terobosan baru dengan
mengangkat genre tari rakyat menjadi sebuah seni pertunjukan yang
digemari hingga lintas strata sosial.
Strata sosial Gugum Gumbira saat itu adalah berada di kalangan kelas
menengah. Terapi karyanya dapat menembus rakyat biasa hingga masyarakat
istimewa. Pada umumnya tari Jaipongan lebih cenderung dikuasai
perempuan ketimbang laki-laki. Gugum secara sengaja membuat kreasinya
kebanyakan berjenis tari perempuan. Hal itu dilakukan dengan alasan
bahwa perempuan memiliki daya tarik yang menakjubkan. Dilihat dari cara
berjalannya saja perempuan dapat menimbulkan daya tarik Apalagi bila
diberi gerakan yang distilasi dengan mengutamakan keindahan gerak.
Tidak disangkal pula bahwa fenomena yang menjadi salah satu faktor yang
menjadi inspirasi terciptanya Jaipongan adalah melihat seorang sinden
yang sedang menari dalam sajian Bajidoran.2) Dari keuletan dan
semangatnya yang menggebu dalam berkarya saat itu, maka tahun 1980-an
Gugum Gumbira mampu melahirkan tarian lain di antaranya Oray Welang,
Toka-toka, Pencug, Sonteng, Setrasari, Rawayan, dan Kawung Anten. Pada
umumnya tarian yang dibuat disertai dengan iringan karawitannya yang
dibuat baru pula.
Kemunculan Jaipongan yang atraktif dan dinamis, dalam waktu yang
relatifsingkat digemari masyarakat luas. Laki-laki maupun perempuan
beramai-ramai mempelajari Jaipongan. Demam Jaipongan pun melanda hampir
seluruh lapisan masyarakat Jawa Barat. Pro dan kontra muncul di
masyarakat karena Jaipongan telah dianggap mengeksploasi tubuh
perempuan. Terutama yang dimunculkan lewat gerakan pinggul. Tidak
dipungkiri bahwa pinggul merupakan salah satu wilayah perempuan yang
memiliki daya sensual tinggi sehingga sebagian orang menganggap bahwa
pinggul adalah wilayah privasi perempuan. Menurut pendapat masyarakat
kebanyakan bahwa keprivasian itu perlu dijaga karena dapat mengundang
gairah kaum laki-laki. Dengan adanya pro dan kontra mengenai masalah
tersebut malah semakin mengangkat nama Jaipongan dan Jaipongan pun
menjadi fenomenal.
1. PEREMPUAN SUNDA
Perempuan dalam masyarakat Sunda lama memiliki kedudukan tinggi dan
dihormati. Seperti yang digambarkan dalam berbagai naskah historiografi
tradisional. Demikian halnya diungkapkan Yakob Sumardjo bahwa
“Perempuan dalam pandangan masyarakat Sunda lama, memiliki tempat
terhormat. Meskipun tidak sampai pada kedudukan tempat terpenting dalam
ruang publik, namun kedudukan perempuan amat terhormat dalam dalam ruang
domestik, dan lebih-lebih dalam ruang batin manusia Sunda”.3) Hal ini
dapat dilihat dalam cerita Pantun Sunda yang menjunjung tinggi tokoh
Sunan Ambu sebagai tokoh yang dapat dijadikan andalan dalam memecahkan
berbagai masalah, sehingga kedudukannya sangat dihargai. Penghormatan
terhadap perempuan juga tergambar dalam Pantun Sunda Panggung Karaton.
Disebutkan bahwa dunia atas yang kosong itu adalah kekemben layung
kasunten, yang berarti bahwa perempuan sebagai azas dunia atas.
Sementara dunia bawah bumi-tanah ini adalah kalakay pare jumarum. Langit
itu perempuan dan tanah itu laki-laki, bila disatukan dan diharmonikan
akan melahirkan kehidupan baru. Dalam pandangan kosmologi masyarakat
Sunda lama, bahwa perempuan sebagai pemberi hidup, berkualitas
transenden. Bahkan rumah dianggap sebagai perempuan. Perempuan adalah
lokalitas, adalah rumah, adalah asal kehidupan.4) Pendapat tersebut
menempatkan kedudukan perempuan Sunda lama sangat dihormati dan dihargai
dalam ruang domestik. Artinya, penghargaan tersebut hanya sebatas ruang
domestik, sementara kedudukannya dalam ruang publik sangat terbatas.
Pembatasan ruang gerak bagi perempuan hingga saat ini masih terjadi
dalam berbagai aspek kehidupan.
Dari gambaran kedudukan perempuan dalam masyarakat Sunda lama, dapat
dibaca bahwa perempuan Sunda memiliki karakter yang berwibawa, dapat
dipercaya, kalem, lembut. Asumsi penulis terhadap kewibawaan perempuan
dalam kemampuannya memecahkan masalah. Dengan demikian diyakini sosok
Sunan Ambu adalah sosok perempuan yang pandai. Sunan Ambu merupakan
kependekan dari susuhunan atau yang disembah. Yang berarti Ibu
Kedewataan yang disembah, agung, dan berkuasa. 'Ibu' di sini bersifat
keilahian. Sosok yang multiperan sebagai Dewi, Ibu yang sangat
dihormati. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa Sunan Ambu memiliki
karakter yang berwibawa, kharismatik, penuh cinta kasih, pendidik,
penolong, serta memiliki kekuatan melindungi.5)
Perempuan yang mendominasi dalam tataran masyarakat Sunda juga
digambarkan dalam cerita Mundinglaya Dikusumah. Ia adalah tokoh Dewi
Asri yang mengajukan persyaratan lamaran Sunten Jaya dengan meminta
seekor gajah putih, satu pasu usus nyamuk, satu pendil jantung semut,
satu papanggungan yang besar dan indah, 25 kapal penuh bahan, 25 peti
emas intan, 40 perangkat gamelan beserta pemainnya, 40 balandongan, 100
kandang kerbau dan sapi, serta 100 kandang ayam dan domba. Cerita lain
adalah Nyi Sumur Bandung yang digambarkan bahwa ia mampu meminang Raja
Munding Keling yang mampu mengalahkan 42 selir raja dengan Bantuan Sunan
Ambu. Demikian pula dalam cerita Purbasari Ayuwangi yang mampu
mengalahkan angkaramurka Purbararang dengan kesabaran dan kelembutan
hatinya.6)
Dari gambaran tokoh-tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah-naskah
cerita pantun tersebut sebagai historiografi tradisional dapat dibaca
bahwa karakter perempuan Sunda lama di antaranya adalah berwibawa,
kharismatik, penuh cinta kasih, pendidik, penolong, pelindung, penyabar,
dan memiliki hati yang lembut. Dilihat dari karakter ini perempuan
dalam masyarakat Sunda lama adalah perempuan yang sangat ideal sebagai
sosok perempuan dalam kehidupan dunia.
Perempuan dalam cerita Pantun di atas sangat berbeda dengan
historiografi modern. Sejarah hanya milik laki-laki yang dipenuhi dengan
tema sejarah politik dan militer yang erat kaitannya dengan masalah
kekuasaan dan keperkasaan.7) Hal ini dianggap tidak adil karena
sebenarnya wanita dapat dipandang sebagai pribadi yang mandiri yang
dapat menggerakkan sejarah.
Perempuan dalam sosio-budaya lekat kaitannya dengan simbol-simbol
seperti: lemah-lembut, keibuan, cantik, dan emosional. Sementara
laki-laki memiliki simbol gender: kuat, perkasa, jantan, dan rasional.
Dari simbol ini dapat dilihat bahwa muncul sebuah persepsi di mana
perempuan lebih lemah dari kaum laki-laki. Dalam stratifikasi sosial
masyarakat Sunda zaman feodal dikenal tiga lapisan masyarakat yaitu kaum
menak (kelompok aristokrat) yang menempati lapisanmasyarakat paling
atas; kaum santana (kelompok tengahdi antara kaum menak dan kaum cacah);
dan kaum cacah/somah (kelompok lapisan paling bawah). Demikian halnya
dengan perempuan. Ada perempuan yang termasuk kaum bangsawan yang selalu
memiliki hak istimewa dengan segala fasilitasnya, dan ada wanita somah
yang harus pasrah menerima statusnya sebagai rakyat kecil.8) Walaupun
demikian perempuan yang hidup di kalangan bangsawan maupun somah
tampaknya mereka memiliki karakter yang sama yaitu pasrah terhadap
keadaan. Mereka diperlakukan seenaknya oleh para penguasa, termasuk
orang tuanya sendiri.
Sebagai salah satu contoh dalam kisah tentang tiga orang anak buah
Dipati Ukur yang bernama Wirawangsa, Samahita, dan Astramanggala. Tiga
orang tersebut mendapat kebebasan dalam tugas dan kewajibannya terhadap
Sultan Mataram karena mereka dianggap berjasa telah bekerjasama dalam
menangkap Dipati Ukur yang dianggap berkhianat kepada Sultan Mataram.
Dengan anugrah yang diberikan kepada mereka dari Sultan Mataram, maka
mereka pun membalas dengan kesepakatan mempersembahkan tiga gadis
cantik. Sultan merasa senang dan mereka pun diangkat menjadi mantri
agung. Sangat jelas sekali bahwa wanita dianggap sama dengan benda yang
dapat dipersembahkan sebagai upeti.9) Di samping itu banyak sekali
contoh-contoh lain misalnya perempuan yang sering dijadikan selir-selir,
atau ada juga dalan Wawacan Sajarah galuh yang mengisahkan tentang Nyi
Tandaruan Gagang seorang putri keturunan Padjadjaran yang mengalami
nasib tragis. Ia mula-mula dinikahi Sulatan Cirebon, kemudian bercerai
dengan alasan bahwa bagian badannya dapat mengeluarkan api. Kemudian ia
pun dinikahi Sultan Banten, tidak lama kemudian cerai pula dengan
alasan yang sama. Akhirnya ia pun dinikahi Sultan Mataram, yang juga
mengalami nasib sama. Kemudian ketiga sultan tersebut sepakat untuk
menjual Nyi Tandaruan Gagang kepada pemerintah Inggris (dalam bagian
lain ke pemerintah Belanda) yang kemudian pemerintah asing tersebut
menukarnya dengan tiga buah meriam. Di sini perempuan tidak bisa berbuat
apa-apa, ia hanya pasrah terhadap keadaan. Karakter yang bisa dibaca
dari cerita ini bahwa perempuan Sunda adalah penyabar, dan menerima atau
pasrah.
Perempuan Sunda mulai tampak dengan adanya perlawanan terhadap keadaan
yang melingkupinya adalah ketika adanya Raden Dewi Sartika putri dari
Raden Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1876). Dari keberanian Raden Dewi
Sartika untuk merobah keadaan karakter dan kedudukan perempuan, muncul
sekolah istri yang kemudian berkembang menjadi Sakola Kautamaan Isteri.
Dengan adanya sekolah ini banyak para perempuan yang memiliki kemampuan
keterampilan. Ia dianggap perempuan kaum menak yang independen. Ia
memiliki karakter yang tegar dan pemberani hingga mampu mewujudkan
cita-citanya untuk memajukan kaum wanita. Maka lahirlah
perempuan-perempuan seperti dia dalam masyarakat Sunda. Penyabar, tegar,
dan pemberani.
2. KARAKTER PEREMPUAN SUNDA DALAM JAIPONGAN
Karakter perempuan Sunda yang telah digambarkan di atas, dalam
masyarakat Sunda lama yang dilukiskan dari cerita Pantun seperti tokoh
Sunan Ambu, Dewi Asri, Nyi Sumur Bandung, maupun Purbasari,
adalahberwibawa, kharismatik, penuh cinta kasih, pendidik, penolong,
pelindung, penyabar, tegar dan memiliki hati yang lembut. Demikian
halnya yang digambarkan dalam sejarah terutama ketika Raden Dewi Sartika
yang hidup di kalangan menak yang merasa tertekan dengan keadaan. Ia
berani berjuang untuk kaumnya agar mendapat perlakuan yang sama dengan
pria. Dari gambaran cerita Raden Dewi sartika tersebut dapat dibaca
bahwa karakter perempuan saat itu adalah, sabar, tegar, dan penuh
perjuangan, tetapi sikap sopan santun tetap dijaga. Kehidupan masyarakat
dari zaman ke zaman terus berubah sesuai dengan perubahan sosial
masyarakatnya. Demikian halnya dengan karakter perempuan masyarakat
Sunda, muncul perubahan-perubahan yang signifikan dalam perilaku
menyikapi kehidupan.
Perubahan karakter perempuan Sunda tersebut tergambar dalam sebuah karya
tari yang dikreasikan oleh Gugum Gumbira yaitu Jaipongan. Jaipongan
yang lahir akhir tahun 1970-an dan populer tahun 1980-an ini memunculkan
karakter perempuan yang semakin membuka diri. Pada masa tersebut
termasuk sebagai masa orde baru yang dapat dikatakan bahwa tingkat
kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Salah satu faktornya adalah
kondisi sosial, politik, dan ekonomi saat itu dalam keadaan “stabil”.
Situasi dan kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap karya-karya
tari.
Kehidupan tari yang sebelumnya, atau yang hidup sebelum lahirnya
Jaipongan, masih memperlihatkan sikap-sikap feodal yang banyak aturan
dan larangan. Misalnya perempuan di kalangan menak tabu untuk menari
karena citra penari yang dulu populer dengan istilah ronggeng sangat
jelek di mata masyarakat kaum bangsawan. Oleh sebab itu perempuan tidak
diizinkan untuk menari. Sementara yang boleh menari adalah para kaum
menak laki-laki saja. Kendatipun dalam sajian Tayuban yang sangat
populer di kalangan menak ada perempuannya itu adalah perempuan yang
berasal dari kaum somah, yaitu penari-penari ronggeng dari kalangan
rakyat.
Tahun 1930-an mulcul karya R. Tjetje Somantri yang mampu merubah image
penari perempuan dari pandangan tabu menjadi tidak tabu lagi, karena ia
menciptakan tari-tarian perempuan di kalangan menak. Karakter tarian
yang diungkapkan sebatas keceriaan dengan penuh keanggunan.
Gerak-geraknya yang halus, lembut, dengan aturan-aturan pola gerak yang
sesuai dengan etika perempuan menak yang dianggap masyarakat kebanyakan
memiliki tingkat kesopanan yang wajar sebagai perempuan kalangan menak.
Ketika muncul karya-karya Jaipongan, baik yang dikresikan oleh Gugum
Gumbira sebagai pelopornya, maupun oleh kreator-kreator generasi
penerusnya. Ternyata karakter tarian yang diungkapkan sangat berbeda
dengan tari-tarian sebelumnya. Tari perempuan yang diungkapkan memiliki
ungkapan gerak yang lebih bebas dan luas. Dilihat dari gerakan kepala,
tangan, badan, maupun kaki tampak sangat leluasa. Salah satu faktor yang
menyebabkan lahirnya gerakan-gerakan yang lebih leluasa, sebab sumber
gerak yang diambilnya adalah berasal dari kalangan rakyat. Sumber
utamanya dari Ketuk Tilu yang juga di dalamnya ada unsur Pencak Silat
kemudian dilengkapi dengan sumber lain dari pertunjukan rakyat di daerah
kaleran. Seperti Banjet dari Karawang maupun Bajidoran dari Subang dan
Karawang.
Ciri utama dalam sajian seni rakyat memiliki kebebasan dalam berkespresi
tidak terpaku oleh aturan-aturan baku yang membelenggu ruang gerak.
Selain itu, gerakan tari perempuan dalam Jaipongan dikreasikan dari
gerakan pencak silat yang tidak memandang jenis kelamin. Ungkapan gerak
pencak silat baik untuk perempuan maupun laki-laki adalah sama, tidak
ada perbedaan yang signifikan. Gerakan pencak yang dituangkan dalam tari
Daun Pulus Keser Bojong, misalnya, menjadi gerakan yang cantik dan
indah diungkapkan oleh perempuan karena gerakan pencak telah distilir
kedalam gerakan tari. Gerak gibas, tangkis, giwar, meupeuh dan
sebagainya menjadi ungkapan yang tidak kentara sumber geraknya, padahal
gerak tersebut memiliki makna dan simbol yang jelas.
Beberapa contoh gerakan dalam Jaipongan akan dibaca bagaimana
hubungannya dengan karakter perempuan Sunda yang kekinian. Gerakan
cingeus yang diungkapan melalui gerak kepala maupun badan sebagai
gambaran karakter perempuan yang gesit penuh antusias dalam menghadapi
berbagai tantangan kehidupan ini. Kegesitan terungkap pula dalam gerakan
kaki, seperti meloncat, depok, ngerecek, mincid, sirig, sonteng, dan
sebagainya. Hal ini bisa juga dibaca bahwa perempuan Sunda hampang
birit. Dari gerakan kaki dapat juga dibaca bahwa perempuan Sunda masa
kini banyak yang “jalingkak”. Tidak seanggun perempuan masa lalu yang
andalemi dibalik bungkusan kain kebaya. Gerak galeong badan dan kepala
yang mengalir legato disertai dengan lirikan mata dan senyuman genit.
Sebagai gambaran karakter perempuan yang kenes. Gerakan tangan dan kaki
yang terbuka lebar, sebagai gambaran karakter yang terbuka dan memiliki
kekuatan serta jujur. Gerak liukan tubuh yang lentur dari ujung kaki
hingga kepala sebagai gambaran karakter yang fleksibel tidak kaku dalam
menghadapi berbagai persoalan. Apabila dilihat dari tempo dan dinamika
gerakan maupun musik yang variatif seperti ada tempo cepat, lambat,
sedang, yang dikreasikan dalam Jaipongan dapat dibaca dan dimaknai bahwa
karakter perempuan Sunda kekinian tidak monoton, penuh dinamika, dalam
arti tidak membosankan.
KESIMPULAN
Jaipongan sebagai sebuah genre baru dalam pertunjukan tari di Jawa Barat
merupakan bentuk ekspresi yang dikomunikasikan kepada para penikmatnya
lewat gerak. Sebagai sebuah seni pertunjukan Jaipongan dapat disebut
media komunikasi yang diungkapkan melalui medium gerak antara kreator
(seniman) dan apresiator, yang kemudian dapat ditafsirkan oleh keduanya.
Jaipongan diciptakan oleh kreator dengan tafsir dan maknanya sendiri.
Kemudian Jaipongan ditonton atau diapresiasi oleh penikmat seni dengan
tafsir dan makna tersendiri pula. Oleh sebab itu penulis sebagai
penikmat memberi makna tersendiri dalam menafsirkan gerakan Jaipongan.
Jaipongan sebagai bentuk seni mengandung simbol-simbol tertentu yang
dapat dibaca dan ditafsirkan oleh setiap orang. Simbol menjadi sesuatu
yang penting bagi manusia. Penulis membaca Jaipongan mengandung simbol
sebagai pemberontakan dan kebebasan dari kaum perempuan yang selalu
terbelunggu dengan berbagai aturan yang sangat mengikat, sehingga
membatasi ruang gerak dari kaum perempuan. Dari ungkapan gerak yang
dituangkan dalam Jaipongan dapat memberi gambaran bahwa karakter
perempuan Sunda kekinian di antaranya penuh semangat, ramah, berani,
kuat, jujur, kenes/genit, pejuang, hampang birit atau gesit, lincah, dan
tidak membosankan. Di samping itu, perempuan Sunda kekinian banyak yang
jalingkak seperti banyak terungkap dalam gerak Jaipongan. Banyak orang
berpendapat bahwa perempuan Sunda adalah pemalas, namun bila membaca
Jaipongandan membaca keberadaan perempuan Sunda masa kini pendapat
tersebut sudah tidak relevan lagi sebagai karakter perempuan Sunda
kekinian. Sementara pendapat mengenai perempuan Sunda cantik dan senang
berdandan, hal itu tidak dapat dipungkiri karena bila melihat tampilan
penari Jaipongan tentu akan terpesona dengan dandanannya yang selalu
ingin menonjolkan kecantikan.